Showing posts with label cerita. Show all posts
Showing posts with label cerita. Show all posts
0

Preambule* to A New Life


"Universitas Indonesia, universitas kami"
"Ibukota negara, pusat ilmu budaya bangsa"
"Kami mahasiswa, pengabdi cita"
"Ngejar ilmu pekerti luhur ‘tuk nusa dan bangsa"
....

itulah sepenggal lagu dari Genderang UI dan Alhamdulillah, gw bisa mendapat kesempatan menghafalkan dan menyayikan lagu itu, lagu yang bernada seperti lagu-lagu perjuangan dan lagu itulah yang menjadi sebuah gerbang nonvisual sebelum gw belajar dan berkontribusi di kampus itu.

ya, SELAMAT DATANG DI KAMPUS PERJUANGAN,
Universitas Indonesia


pertama kali senior" gw di UI tau gw keterima di UI, ga sedikit orang yang mengucapkan "Welcome to The Jungle".
pertama kali gw denger itu dalam hati gw ngomong, "yeah, I'm ready for it!"
haha walaupun ga sepenuhnya ready karena masih belum tau juga bagaimana suasana di sana, tapi dari banyak referensi yg gw denger dari kakak" kelas gw di SMA, katanya ga beda jauh dari SMANSA, dimana suasana organisasinya kental,
dan semua hal diatas itu sifatnya subjektif, hal yang belum gw rasain dan gw pandang dengan mata kepala sendiri. yeah, it's okay! be positive thinking, bagaimanapun juga gw hrus bisa berkontribusi disana, terjun dalam kehidupan disana, berbaur, namun bukan melebur.

Alhamdulillah gw udah nyiapin berbagai hal untuk kuliah disana mulai dari tempat tinggal (kost), barang" yang dibutuhkan untuk ospek, barang" sehari" di kost dan yang lainnya.
kemudian, kapan gw akan pindah? ya, BESOK! Sabtu, 31 Juli 2010 akhirnya setelah menunggu 1.. 2.. 3.. 4.. bulan! *benarkah? lupa hehe CMIIW :D
akhirnya gw bisa belajar lagi, bisa bersosialisasi sama orang lagi, dan bisa ngembangin otak gw yg mungkin sejak liburan males"an, maen game dll hahaha

satu yang gw masih fudulin sampe sekarang, gw masih bingung mau ikutan organisasi atau UKM apa nanti, banyak banget yang seru namun gw juga ga bisa nyuekin nilai IP, bukannya membatasi diri amun realistis dulu, hehe
nanti juga ngerasain, ya tidak? :D

wah hari ini pertama ngeblog lagi setelah hmm setahun? ya setahun ga ngeblog hehe
gw liat di recent post ternyata gw terakhir ngepost di blog itu agustus 2009, ya hampir setahun ckckck

oke, at last,mulai minggu nanti, SEMANGAT LATIHAN PADUS! hehe
harus terus keep fire dan keep fighting !
jadi inget KIR ^^
then, Salam Metal! B)

*untuk sahabat dan teman" rakit bambu yang masih berjuang dalam mencari pelabuhan terbaiknya, ayo semangat! banyak"in doa ya. Semoga kalian dapet yg terbaik! Amin..
Allah SWT udah punya rencana terbaik untuk kita jika kita juga memiliki niat baik juga untuk kehidupan kita.. ^^
2

Malam Hari Dalam KRL



Di malam tanggal 01082009 (sabtu), saat itu aku baru pulang dan sampai di stasiun Bogor jam 7an...
Sampai di Stasiun Bogor jam 7an..
Saat itu ngeliat ga ada kereta ekonomi, seperti biasanya aku berpikir kereta memang terlambat
(akhir-akhir ini emang sering telat kereta teh)..
"teng tong (suara nada pngmuman distasiun), kereta ekonomi tujuan jakarta yang seharusnya tiba di bogor jam 7.50 berangkat adri stasiun universitas indonesia menuju Bogor "

Dalam benak, aku berpikir, "Dari stasiun universitas indonesia sampai bogor kan setengah jam, yauda deh nunggu aja",,
lama juga nunggu tuh ga ngpa"in, hehe
handphone juga udah lama mati gara" low battery..
yauda kereta akhirnya dteng skitar jam setengah 8an lewat..
tapi terdengar pengumuman lagi kalo kereta yang dateng itu ga diberangkatkan.
wow, nunggu lagii..
ada lagi tuh suara pengumuman katanya 'mohon maaf kereta atas keterlambatan kereta..'
(iyaa gpapa deh, udah biasa, hahaha xp)

Udah dteng tuh bbrapa kereta ekspress, tapi yg masih ekonomi blum dateng.
ga naek ekspress karena kan ga berhenti di bojong gede..
lagi ga ada duit jga, hihi
wew, (biasanya kan pke kls kalo naek ekonomi, jd gratis, hehe)

Sampai sekitar jam 9an ada kereta ekonomi yang baru dateng di jalur 7 dan diumumkan bahwa kereta yang baru dateng tadi kereta terakhir tujuan jakarta..
waah, aku yakin nih sbentar lagi brangkat..
pas msuk kereta dpet duduk tuh, udah pw juga dduknya..
hehe

detik demi detik menit demi menit berlalu, kereta yang sbnernya uda mau brangkat entah kenapa ga jadi brangkat"..
(disaat itu juga uda ada bnyak pedagang yang merasa kesal kenapa kereta tidak berangkat,
mereka berkata, "udah bakar aja kereta deh udah nungguin lama bgt ga brangkat2.. Untung bukan pagi-pagi kereta terlambat)
terlintas di benak "oh iya, uda ada bbrapa kjadian gara-gara kereta sering telat salah satunya pada saat hari kerja. Di saat pagi hari banyak
penumpang yang merasa kesal dan ada kejadian lempar"an ke arah kaca stasiun. Karena mereka takut juga terlambat kerja..
mudah"an tidak terulang lagi, amin"

Wow, lama lagi nunggu kereta itu tadi berangkat, untunglah ada 2 'band pengamen' yang ada digerbong yang aku tumpangi..

Pada band pertama, mereka menyanyikan ladu pertama mereka yang berjudul 'ALUSIA'
waah lagunya bikin semangat juga tuh, lagu daerah sumatra utara..
ngebeat, asikan, hahaha
lumayan alat" musiknya ada gitar, piano, bass yang gde, tamtam..
udah harmonis bgt kynya mreka nyanyi lagu itu..
terus di lagu keduanya mereka nyanyi lagu 'SAJOJO', lagu daerah papua kalo ga salah..
lagu" tadi ngbikin aku asik aja uda hampir 3 jaman nunggu, haha
abis itu udah tuh band pngmennya keluar dri gerbong..

terus ada lagi band pngamen yg bernyanyi digerbong..
band itu mnyanyikan 2 buah lagu, lagu pertama aku ga tau lagu apa..
trus lagu keduanya lagu laluna yang jdulnya selepas kau pergi..
wah tdi band pertama udah lmyan ngebeat, skrg jdi agak mellow..
hehe
tapi udah mantaplah !
haha
sipsip, terima kasih bnyak kpada para pengamen" tdi yang udah nghibur penumpang"nya ;)
hihi

waah, masih blum jalan" kretanya, yauda aku trun nyari angin nan sjuk di malam hari..
hehe
soalnya di kreta lumayan gerah juga wlaupun kosong..

ada kereta yang masuk stasiun bogor di jalur 6 lagi kebetulan..
aku naik kereta itu aja, mungkin aja jalan dluan..
tetapi aku salah prediksi, ternyata kreta yang akan brangkat ada di jalur 7
wuihh..
jadilah pindah ke jalur 7 lagi..

aku kembali dduk dan akhirnya kereta berangkat dri stasiun bogor hampir jam 11 malam, wow !
saat kereta jalan, di hadapan ada beberapa pedagang asongan yang sedang mengobrol..
mulai dari yang tua yang saat itu dipanggil 'pakde' oleh pedagang lain, trus pemuda, dan ada 3-4 anak" juga yang ikut ngobrol di sana..
mereka ternyata menjual minuman dari siang..
ckckck..

anak kecil yang berumur sama dengan anak" sekolah dasar sudah disibukkan dengan pekerjaan yang sangat berat..
apakah yang sedang dipikirkan orangtuanya sehingga menyuruh mereka berjualan hingga larut malam..
i think one reason, masalah ekonomi..
yap, SEHARUSNYA pemerintah bisa lebih peduli dengan keadaan ini..
heu

Di kereta itu, sesekali mereka juga nyeletuk satu sama lain yang mmbuat aku nahan ketawa trus, haha
gapapa, supaya ga tertidur dikereta juga, hehe
angin malam terasa dinginnya saat kereta berjalan cukup cepat..
para pedangan itu masih membicarakan mulai dari kejadian kereta yang terlambat tdi, trus pendpatan hri ini yang seadanya, berbagai celetuk, dll
(asik juga ngedengernya, hehe)
melihat mereka tersenyum dan tertawa mereka jga sudah bisa membuatku lepas dari penat akibat terlambatnya kereta tadi..

dan akhirnya kereta tiba di stasiun bojong gede..
suasana di stasiun itu sepi karena memang sudah larut malam..
aku kemudian berjalan melewati pertokoan yang sudah tutup semua..
di depan terlihat ada seorang anak kecil perempuan berjalan membawa barang dagangannya berupa kerupuk kulit..
saat melewati sebuah tko, disana ada seorang ibu yang sedang menutup tokonya, anak kecil itu kemudian bertanya sesuatu..

si anak : "ibu maaf jam berapa ya sekarang?"
ibu : "jam 11 lewat neng, udah malem langsung pulang yah"
si anak : "ohh ternyata udah jam 11 ya bu, makasih yah"

sepintas aku tersenyum kpada ibu itu dan merasa kasian melihat anak itu yang sampai malam berjualan tak kenal lelah..
sekali lagi, pemerintah seharusnya lebih peduli terhadap mereka..
smoga kedepannya anak" Indonesia bisa menjadi generasi yang sejahtera dan peduli terhadap orang-orang sekitarnya..
amin..

stelah itu aku berbelok arah untuk pulang arah jalan rumah..
malam itu, sebuah kejadian yang memiliki banyak hikmah untuk kita ambil..

*photo was adopted from flickr uploaded by nugrahadi
1

Pesan Dari Kereta


Saat saya pulang malam, didalam sebuah gerbong kereta ekonomi saya terinspirasi untuk menulis ini..

Kereta Rel Listrik adalah alat transportasi yang digunakan oleh orang-orang untuk bepergian mulai dari suatu tempat ke tempat yang lainnya. Akan tetapi didalam benda panjang itu berguna sekali untuk kehidupan para pedagang yang berjualan untuk mencukupi kebutuhan keluarganya, pengamen yang bisa menghibur tetapi bisa juga mengganggu penumpang karena suara alat musik yang kadang-kadang dinyalakan keras-keras..

Walaupun begitu, mereka menjalani dan mencari rezeki didalam kereta tidaklah mudah, banyak pedagang atau pengamen yang menjadi jambret, preman, dan sebagainya karena faktor stress akibat barang-barang yang diperjual mereka tidak laku..

Kebetulan, saya sering naik kereta dan saya melihat memang kehidupan didalam kereta itu keras. Kita akan merasakan dan melihat bau rokok, pemalakan preman, bau sayur"an yang dibawa oleh penumpang, dan lainnya. Akan tetapi sekarang sudah ada beberapa polisi khusus kereta untuk kenyamanan penumpang. Bagaimanapun juga tidak menutup kemungkinan mengenai kriminal dikereta rel listrik.

Banyak pelajaran yang dapat saya ambil dari Kereta Rel Listrik Jabotabek salah satunya adalah bersyukur . Ya, salah satu kata banyak disepelekan oleh orang tetapi mereka mengetahui makna dari kata itu. Kita seharusnya bersyukur sudah diberikan banyak karunia dari Allah SWT. Contohnya makanan dan minum sudah disediakan, mendapat pendidikan yang layak.
Hal ini tentu saja bebeda dengan orang-orang kurang beruntung yang saya lihat disana..
di Kereta Rel Listrik Jabotabek.
1

Oleh-Oleh Ranah Minang (1)

Traveling adalah salah satu hobiku karena dengannya aku dapat mengetahui dunia atau keadaan tempat yang lain meliputi keadaan geografisnya, masyarakatnya, dan sebagainya. Selain itu aku dapat melihat dunia baru, tidak terbatas hanya tempat yang itu-itu saja. Dan ini pun berguna sebagai refreshing.
Selain itu, aku ingin pergi ke tempat-tempat yang belum pernah aku kunjungi karena rasa ingin tahu aku terhadap tempat itu. Oleh karena itu, saat aku diajak oleh ibu ke sumatra barat, dan kalau tidak salah aku belum pernah ke sana. Karena itu aku mengiyakannya.
Dan Beginilah perjalanannya (wew) : ..

Aku dan ibuku berangkat dengan menggunakan pesawat pada pagi hari dari Kota Jakarta ke Kota Padang menempuh waktu sekitar 1,5 jam. Alhamdulillah setibanya disana, cuaca begitu cerah. Kemudian aku dan ibuku menuju Kota Payakumbuh karena ibuku ada urusan disana. Kami pergi ke sana dengan menggunakan angkutan mobil APV. Sebagai info, disana itu angkutan antar daerahnya didominasi oleh mobil APV, Avanza, Kijang. Malah katanya ada lho yang BMW juga. (Beudeuh. ajib dah..) Jadi, jangan heran juga disana banyak mobil itu. (Hampir sama fungsinya dengan angkutan Colt L300 di Bogor yang mau ke Sukabumi atau Cianjur).

Saat diperjalanan, pemandangan disana begitu indah. (kaya lagu.hehe)
Terlihat persawahan yang hijau dan di sekitarnya ada kumpulan bukit-bukit mulai dari yang besar hingga yang tinggi. Mobil angkutanku jalannya ngebut. Maen lahap aja susul-susulan dengan bis, truk, dan mobil lainnya. Ya begitulah disana karena jalannya juga bagus, kendaraan berjalan dengan cepat walaupun jalan lebarnya itu tidak begitu luas. Dan diperjalanan saat melewati lembah anai, terlihat air terjun di tepi jalan. (waw). Dan saat melewati kota-kota disana pasti banyak rumah yang atapnya runcing-runcing. (haha. yaiyalah, kan landmark disana rumah gadang)..

Kami menginap sehari di Kota Payakumbuh. Setelah itu, pergi ke Kota Bukittinggi. Disana aku mengunjungi Jam Gadang yang terkenal itu. Kemudian aku melihat Ngarai Sihanouk. Ngarai Sihanouk ini adalah sebuah Canyon, dibawahnya terlihat sungai kecil mengalir dan dikejauhan tampak Gunung Singgalang. Setelah melihat Ngarai Sihanouk itu, tak jauh dari sana ada Gua Jepang. Aku masuk ke dalam sana. Terasa dingin. Banyak ruangan yang ada didalam Gua atau Lubang Jepang itu. Dan waw. Bagaimana bisa ya orang-orang zaman dahulu membuat lorong seperti itu ? ...


Ngarai Sihanouk







Lubang Jepang




Setelah melihat-lihat Kota Bukittinggi, aku dan ibuku langsung pergi ke Kota Padang. Di sana aku hanya istirahat semalam. Besoknya aku pergi lagi ke Kota Pariaman tepatnya di daerah Sungai Limau. Sesampai disana niatku langsung pergi ke pantai karena memang dekat, sekitar 20 -50 meter. Tetapi, tidak jadi karena kami langsung pergi ke Danau Maninjau..

Untuk pergi ke Danau Maninjau, kami menggunakan bus dan oplet. Sesampai disana hanya satu kata yang menggambarkanku. Takjub. (cangak juga sih. haha).
Aku benar-benar merasakan pemandangan yang Subhanallah indah banget. Bukannya lebay atau gimana, pokonya susah deh kalo diceritain pake kata-kata juga. Terlihat danau yang begitu luas sekali dipenggirnya terlihat juga sawah yang menghijau dan disekitar Danau dan sawah itu dikelilingi bukit. Waaw. Aku juga beruntung karena saat itu langit banyak awan dan sedikit mendung tetapi cahaya matahari ceraah banget.
Cuaca cerah dan sedikit mendung seperti itu jarang terjadi disana. mmhhh.. ^^
Aku langsung mengambil HP ku untuk memfoto keadaan alam disana. Beberapa fotonya :

Danau Maninjau





















Sayangnya aku tidak menelusuri jalan lagi. Jika aku telusuri, akan ada kelok 44 yang disana kita dapat melihat Danau Maninjau dan segala yang ada disekitarnya dengan jelas. wuiihhh...
Walaupun begitu, aku benar-benar sangat kagum dengan pemandangan alam disana. ^^

0

Satu Perbedaan, Seribu makna

Saat itu pada hari sabtu ada dua acara yang mungkin bisa dibilang cukup Besar di Bogor. Dua acara yang terlihat jelas perbedaannya akan tetapi lokasinya berdekatan. Acara-acara itu adalah Festival Kebudayaan Daerah Sunda yang acaranya terletak di Kemuning Gading dan Bonenkai Japan Festival. Saat itu aku memang berencana pergi ke dua acara itu supaya aku mendapat suatu pelajaran dari acara tersebut.

Saat pulang sekolah aku pergi kesana bersama Gary, Christian, Siska, dan Esfi. Saat kami tiba dilokasi, kami bertemu Riri, Dini, dan Nita. Dalam gedung yang cukup besar, terasa panas sekali. Gerah. Yang ingin aku lakukan adalah pergi keluar sebentar, ya mungkin untuk mencari angin. Akan aku juga ingi melihat pertunjukkan sampai habis (penasaran). Aku dan yang lainnya melihat pertunjukkan tari. Saat itu aku melihat peserta tari yang ke 8. Setelah pertunjukkan tari peserta itu selesai aku dan yang lainnya membeli es krim sekedar untuk iseng-iseng. Dan terlihat diluar gedung ternyata sudah hujan deras.
Saat aku kembali dengan potongan es yang telah habis dimakan, aku melanjutkan menonton pertunjukkan peserta yang lainya. Dan tidak lupa juga aku memfoto pertunjukkan itu. hehe

Dan tiba saat peserta terakhir, aku maju kedepan untuk melihat lebih dekat. Ternyata itu adalah Sanggar Tari Obor Sakti dan terlihat juga Pa Odoy memegang sebuah alat musik. Pertunjukkan pun dimulai..
mmhh..
Menurut aku musik pengiringnya berbeda dengan musik pengiring tari dari peserta lain. Terdengar bass yang mendominasi dipadu dengan gitar dan tetabuhan yang harmonis (ini menurutku. hehe) Pertunjukkan tari juga tidak kalah bagus dengan peserta yang lain. Dalam pertunjukkan itu terlihat satu orang lelaki dan beberapa perempuan yang menari.
Setelah pertunjukkan aku simpulkan bahwa pertunjukkan dari peserta-peserta tari yang telah aku lihat ternyata berbeda dengan pandanganku sebelumnya. Semua tari memiliki tema yang sederhana akan tetapi mengandung pesan yang besar kepada penonton. Dan perpaduan unsur-unsur yang terkandung membuat penonton kagum. Selama ini kita hanya melihat suatu tari dari penampilan fisik saja. Seharusnya kita dapat mengambil pesan dari suatu pertunjukkan.

Saat keluar gedung ternyata kami bertemu Pa Odoy. Dan Pa Odoy langsung menanyakan pendapat kita tentang pertunjukkan tadi. Selain itu Pa Odoy memanggil seorang turis mancanegara untuk kita wawancarai. (Wah. Dadakan banget.) Turis itu memakai baju yang juga sama dipakai oleh personil Sanggar Seni Obor Sakti.
Awalnya kami bingung ingin bertanya apa, percakapan pun muncul..
Kami menanyakan beberapa pertanyaan. (Ya tentang seni.hehe)
Saat percakapan kami banyak mengeluarkan kata seperti thats right, ohh, thats cool. haha
Karena kami juga belum lancar berbahasa Inggris.
Bule itu kemudian berkata dengan logatnya"Don't be shy, jangan malu". (Siapa yang malu pa, kita bingung mau nanya apa. Nanti kalo kita pake Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda kaga ngarti lagi. haha)
Turis itu bernama Ferdinand, dya berasal dari Italy. Di Indonesia udah 1 tahun. Katanya dia sangat menyukai Indonesia dan betah disini. Wew. Baguslah ^^


Chris, Atul, Ferdinand, Pa Odoy, Rj


Pa Oody, Orang Papua Nugini, Rj, Chris, Atul, Ferdinand, Nita, Orang Bule, Orang Filipina, Orang Bule

Aku penasaran dengan budaya Jepang. Dan jujur aku juga ingin ke Jepang. Aku penasaran dengan dunia luar. Aku ingin melihat alamnya, budaya aslinya, teknologinya. Aku ingin mempelajari teknologi disana yang kemudian nanti bisa aku gunakan di Indonesia. Dan aku berniat untuk melihat Bonenkai Japan Festival supaya aku tahu bagaimana Budaya Jepang itu.

Setelah tiba disana, rame banget. Kami bingung mau kemana. haha
Ternyata disana hanya ada budaya Jepang model harajuku gtuu.. Budaya Jepang yang asli sepertinya tidak ditampilkan.
Disana kami melihat banyak souvenir-souvenir yang dijual. (Ga tau itu asli apa ga. Aku ngerasa ada souvenir yang sering dijual di Glodok, tapi mngkin itu prasaan doang).
Sesak dan ga tau mau kemana. Itulah perasaan kami saat itu.
Kemudian kami masuk ke sebuah ruangan. Terlihat ada band yang sedang menyanyi. (Mirip banget Kangen Band.haha)
Di sana kami melihat orang-orang memakai pakaian-pakaian bergaya Jepang. Rambutnya pun sama. Orang-orang itu ternyata orang Indonesia semua. Mereka berdandan dan bergaya seperti tokoh-tokoh di komik Jepang.
Menurut aku mereka terlihat aneh dengan itu. Kayanya ga pantes. Kalo orang Jepangnya sendiri yang pakai ya pantas. Tapi orang Indonesia mungkin tidak cocok.

Budaya asli Jepang khususnya yang aku tahu itu perempuan yang memakai kimono, dan sebagainya. Menurutku, Budaya Jepang yang kita kenal sekarang adalah perpaduan antara budaya barat dan budaya Jepang itu sendiri. Orang-orang indonesia itu rela memakai baju-baju bergaya Jepang (modern dan ga asli) walaupun disana berdesak-desakan. Mereka senang dan bangga terhadap apa yang mereka pakai dan apa yang mereka lihat. Mereka sepertinya rela melakukan apa saja hanya untuk melihat dan membanggakan itu semua.

Tapi Bagaimana Dengan Kebudayaan Sendiri ?

Sangat Memprihatinkan. Disaat banyak orang asing yang datang ke Indonesia untuk mempelajari budaya Indonesia, kita malah berleha-leha dengan kebudayaan yang bukan asli milik kita. Sepertinya pemuda pemudi zaman sekarang mulai terkikis rasa nasionalismenya..
Mereka tidak memperdulikan sedang atau tinggal dimana mereka saat ini.
Dimana mereka dibesarkan.
Dimana mereka hidup dan bersosialisasi dengan banyak orang.

Ya bolehlah kalian kecewa dengan Indonesia sekarang yang mungkin banyak terdengar kata-kata Korupsi, Teroris, Ga bisa Maju, Krismon..
Tapi apakah kita diam saja ? Apakah kita hanya menonton dan hanya mengkhayal ingin Indonesia menjadi negara maju ?
Tentu saja tidak. Hai semua generasi penerus..
Masa Depan ada ditangan kita. Kita bisa untuk merubah bangsa ini menjadi lebih baik.
Dan akhirnya para pahlawan yang ada disurga tersenyum bangga dengan kita..
Dunia melihat kita sebagai bangsa yang berwibawa, terpelajar. Kita pasti bisa.
Asalkan kita memiliki niat yang kuat dan kemampuan untuk berubah menjadi lebih baik.
Tumbuhkan dahulu rasa nasionalismemu. Dimulai dari kesadaran diri masing-masing..
0

Sekretariat, Satu Untuk Semua

Pada hari ini aku melakukan pembersihan sekret dengan anggota-anggota KIR. Melihat dari keadaan sekretariat yang berantakan dan berbau aneh kami harus bertindak cepat untuk membuat sekret 'segar' kembali. Saat itu yang ikut kebanyakan anggota kelas X, yang lain berhalangan hadir karena ada praktikum. Mereka yang ikut dalam pembersihan sekret adalah Nur adhi, Agung, Adiguna, Angga (katanya dipanggil asu), Annas, Riza, Gita, Ririe, Asha, dan yang lainnya.

Pertama aku masih terganggu dengan bau didalam sekret. (haha. terganggu. padahal mah ga kuat masuk ke sana).
Kemudian aku dan Adigun mencari apa yang menjadi sumber bau itu. Agung dan yang lain membuang air yang dalam ember bekas daur ulang itu serta mempersiapkan alat-alat seperti pel, sapu, ember.
Didalam sekret kami juga mencari apa masih ada anak kucing dalam sekret. Kami geledah dibawah lemari dengan senter ternyata tidak ada. Yang kami dapatkan itu malah kotoran kucing. huuu. baunyaa sedaap.

Tiba-tiba hujan turun..
Kami berusaha untuk mengungsikan barang-barang ke sekret DKM dan OSIS. numpang dulu. hehe
Eh, kemudian ujan berhenti. Waduhh. Padahal uda cepet-cepet. haha

Lalu Gita mencoba untuk membuang kotoran itu. Beberapa menit kemudian ia berhasil membuang kotoran yang telah keras itu walau hanya menggunakan tisu. (Weks). Walau telah dibuang ternyata sekret masih berbau aneh dan kemudian kami menyemprotkan parfum (dikasih dania) supaya saat mengepel tidak terlalu bau. Ririe dan asha mengepel sekret itu dengan menggunakan karbol pembersih lantai yang kemasannya bergambar pohon cemara. haha. Proses pengepelan itu disaksikan alumni yaitu teh arum dan seorangnya temannya.

Setelah itu Gita, Agung, Asha pulang duluan
Kemudian hujan turun dengan derasnya..
Kami yang tersisa pun berdiam diri di masjid dengan melakukan belajar fisika bersama. Aku sendiri membaca buku adhi yang bertemakan "Cinta" gtu.
Membaca buku itu saat hujan turun rasanya begitu berbeda..

Dan saat hujan reda, yang tersisa ada 5 orang pemuda disana (ceiile) yaitu Nur adhi, Adiguna, Asu, Annas, and me. hehe. Kami kemudian merapikan seluruh barang ke sekret kir kembali. Dan kami pun menempelkan LAMBANG KIR LAMPU PIJAR didinding. Yang manjat lemari itu si Asu. Pas manjat si bisa tapi pas turun bingung dan kemudian dia lompat. haha.

Terakhir kita mengunci pintu sekret dengan sepotong tali rafia. Terima Kasih banyak kepada kalian yang telah ikut membersihkan sekret.. ^^
Lega rasanya melihat sekret yang ga terlalu sumpek seperti yang sebelumnya..
Mudah-mudahan Sekretariat dapat menjadi tempat yang berguna dan merupakan magnet untuk dapat menambah sosialisasi dan komunikasi bagi seluruh siswa siswi SMANSA khususnya anggota KIR..

2

In Station, from sad to smile

Beberapa hari yang lalu, saat gw pulang sekolah tepatnya sore, gw sedang sedih memikirkan seseorang. Ketika masuk ke dalam stasiun seperti biasa gw ketemu sama tukang koran" kenalan gw disana. Disana itu gw ketemu sama 2 orang, yang satu namanya si fadli yang satu lagi namanya ucok. Yang gw tau si fadli ini berasal dari jawa (jawa sana maksudnya) kayanya 30 tahunan dan si ucok dari Sumatra Utara (rada batak gtu). kayanya 28 tahunan. Jangan salah, kemampuan pengetahuan umum mereka itu bagus lho..

Pas gw ketemu, dengan mereka raut muka gw lagi sedih n gw lagi megang hape. Kemudian terjadilah percakapan :
Gw (G), Fadli(F), Ucok(U).

F: Eh, lu kenapa? Coba gw liat hape lu.. (penasaran mau liat hape gw)
G: Gw lagi inget ma seseorang li..
F: Cewe ya? Udah ga usah dipikirin..
G: Susah li.
F: Cewe sama cowo itu didunia perbandingannya 4:1. Jadi lw ga usah mikirin cewe satu orang doang. Cewe yang lain banyak.. (si fadli langsung nyanyi-nyanyi lagu cinta gitu kaya lagunya ST12)

(gw pngen ketawa tuh gara-gara dya sering nyanyi gitu, tpi blum bisa)
G: Ah lw kayanya ga ngerti li tentang ini..
U: (si ucok tiba-tiba mencela). Si Jawa ga usah lw dengerin. (si ucok emang manggil si fadli dengan sebutan Jawa). Dia ga bener itu (ngomongnya ada logat bataknya sedikit).
(Gw hanya tersenyum)
F: Udah, gw pengen liat hape lw..
G: (karena emang hape gw lagi dipake sama gw, trus gw ngalihin pembicaraan). Li, si item mana ?? (si jirjis maksudnya)
F: Waahh.. si ivan Gunawan versi black ? ga tau tuh gw. (si fadly ma si ucok kadang-kadang manggil si jirjis ivan gunawan versi black, Thuram, gendut. Gw sering ketawa kalo si jirjis sama mereka ngadu bacot ejek-ejekan gitu tapi seru, kita uda kenal lama. si jirjis aja kenal mereka itu dari sd. haha)
U: Gw juga ga liat.

Trus gw pengen liatin mereka sesuatu.
G: Li, lw mau liat video gw n jirjis ke pantai ga? ada poto si jirjis juga
F:Mana sini gw liat..

Saat si Fadli ngeliat itu video dia ketawa ngakak ngeliat poto si jirjis lagi bergaya gitu deh. haha
Pas videonya udahan, gw ngasi tau mereka kalo gw punya video bola lucu.
G: Li, gw jga punya video bola ni.
(trus gw liatin itu video dari hape gw)

Si fadli n si ucok ngakak parah. Gw juga ikutan ketawa ngeliat mereka keketawaan. haha. Pokoknya ketawanya heboh bnget deh.
Saat itu, gw juga kebawa suasana mereka. Saat itu gw kembali tersenyum dan ketawa. Gw seneng banget ngeliat mereka seneng. Walaupun gw tau mereka masih mencari uang untuk kehidupan keluarga mereka sehari-hari. Hari yang mereka lalui dengan penuh lika-liku kehidupan. Walaupun begitu, mereka bisa mengisi hari-hari mereka dengan keceriaan, keramahan, senyum yang setiap kali ku bertemu mereka.
Saat itu gw kembali senang untuk melupakan kesedihan yang sedang gw alami.

Dan setelah itu kereta yang akan gw naiki akan berangkat. Gw bergegas untuk naik agar gw ga terlalu kesorean lagi pulang kerumah.

Terima Kasih kepada mereka yang tak langsung telah memberiku pelajaran hidup dan sejenak nafas-nafas kelegaan dihari itu.
1

Semua Yang Ku Dapat Disana

Assalamualaikum..
Hai semua ! Gw sekali-kali pengen curhat tentang sesuatu yang emang gw rasain. Gw pengen cerita tentang Smansa..

Pertama kali gw masuk smp di bogor. Gw awam sama sekolah-sekolah di Kota Bogor. Walaupun gw pernah sekolah di Bogor saat sekolah di SDN Lawanggintung 1 sampe kelas 3 doang tapi gw masi awam tentang Bogor.

Tentang sekolah juga. Saat gw masih dibangku smp tepatnya kelas 8, gw masih bingung mau masuk SMA mana. Yang gw tau SMA yang bagus itu adalah SMA Negeri 8 Jakarta. Gw sama teman gw satu lagi yang juga tinggal diBojong si anwar, punya target untuk masuk sana.

Setelah gw beranjak naik ke kelas 9, gw nanya-nanya ke orang" SMA-SMA yang bagus di Bogor itu apa aja. Dan ternyata banyak yang mengimpikan untuk masuk ke SMA N 1 Bogor.

Dan kemudian saat gw mengikuti suatu lomba yang diselenggarakan oleh SMA Negeri 1 Bogor, gw merasa SMANSA itu juga merupakan sekolah yang bagus. Saat itu menurut gw Smansa itu memiliki murid-murid yang pintar". Dan suasana belajar disana kayanya kompetitif. Banyak lulusan sana yang masuk ke PTN-PTN favorit. Dan akhirnya gw punya target untuk masuk ke Smansa karena sekolahnya juga sama bagusnya dengan SMAN 8 Jakarta. Dan cukup dekat dari rumah. Tinggal naik kereta trus jalan..hehe

Suasana menegangkan dirasakan saat pengumuman hasil UN. Dan alhamdulillah hirabbil 'Alamin nilai gw bagus dan akhirnya gw masuk Smansa.Yey !

Dan tidak terasa sekarang gw telah kelas XI. Gw belajar dikelas XI IPA 1 yang kelasnya deket banget me ruang Wakasek hanya dipisahkan dengan "Kolam Tanpa Air". (haha. yaiyalah. itu kolamnya pas jam pulang sekolah, banyak keliatan orang lho. haha)

Gw sampe sekarang ngerasa bingung Smansa itu sekolah apa tempat apa siii !?? GW GA DAPETIN PELAJARAN UMUM AJA, TAPI JUGA DAPETIN PELAJARAN HIDUP, BANYAK KETEMU SAMA FENOMENA KEHIDUPAN SERTA KETEMU ORANG-ORANG YANG GREAT" !

Smansa juga bener" ngerubah diri gw. Gw awalnya sekolah di Bogor itu, pendiem. Tapi sekarang ya pasti kamu-kamu semua tau gw gmana.

Pokonya makasih Ya Allah aku sekarang bersekolah di Smansa n aku telah mendapat banyak teman" yang ""lucu-lucu"" serta baik-baik serta sangat bersahabat. Pantas saja banyak alumni yang sering berkunjung ke Smansa saking kangennya mungkin dengan Smansa. haha

Daan gw bersyukur banget rumah gw di Bojong Gede (daerah perbatasan.haha) karena ke Bogor (yang udaranya cukup segar tapi baru" ini panass ) deket serta ke Jakarta (kota yang dinamis dalam segala hal dan Kota yang merupakan homebase-nya PERSIJA JAKARTA) juga deket. Tinggal naek kereta doank... (hehe. makanya jangan ngeremehin Bozonk. hehe)
Jadi gw cukup mudah pergi ke 2 daerah itu walaupun tujuannya berbeda. Gw belajar di Bogor n refreshing ato cabud ke Batavia City. Ada yang mau ikut?

© oxygenryan ™
0

Cerita-Cerita Mancanegara; Zippo

Zippo

John said; 'I had this dream. I'll tell you about it: I'm standing in a bar with some friends and we're talking, drinking, it's Friday night and the bar is pretty full, there's loud music playing. The beer is making me feel good, but not falling-down good, and the vibe is there and all the girls look pretty. I have enough money in my pocket to keep it going like this all night so, you know, everything is fine.'

He wound down the window and took a deep breath before continuing.

'It's my round and I go to the bar and there's a huge crowd but I get served right away. As I pass out the drinks and turn back to get my own beer I brush against this girl, I mean, she brushes against me. And smiles. Real eye contact. I think to myself, "This is going to be a really good night" and if I'd woke then I would have woke up laughing. You know how it is with dreams, good dreams, part of you knows it's all fake but if you are really lucky you don't wake up. Everything works alright.

'Then this kid walks into the bar, I don't see him first, but my dream sees him or maybe I just remember it afterwards. He's just a skinny kid, wired up though, real angry looking, and in his hand he is carrying a bucket full of petrol. It sloshes about as he pushes through the crowd.

'I look up to see him standing in front of me just as he throws this bucket of petrol in my face. Next thing I'm standing in a crowd of one as everybody backs away, except the kid who is grinning at me, and I am soaked in petrol. My eyes sting as it runs down my face. It is clotting in my beer.'

John looked at me and smiled, a wry smile.

'There I am, standing alone in a puddle of flammable liquid, the stuff is seeping through my clothes; it feels clammy and scratchy. I know what is about to happen and I think to myself, "Why me? What have I done to deserve this?" Like it just isn't part of any of my plans to be burned alive in a pub on a Friday night.

'The kid reaches into his pocket and pulls out a Zippo, holds it toward me and smiles. He has nice even teeth, I notice. I think to myself, "I haven't had time to think this through and I'm not prepared. I'm not ready yet."

'I'm still waiting for my life to flash before my eyes when he snaps open the Zippo. And it fails. It won't spark. He clicks it again. It fails again. He says to me, almost apologetically, "Just hold on,
Rufus, it'll work in a moment." He really concentrates on getting this thing to work.

'Then I woke up so fast. I'd wet my shorts. I was more scared than I'd ever been.'

John shrugged, played with the air vent, 'I've had this dream four times,' and then he wound down the window again, and spat into the fresh damp air.

'The first twice it was like a shock to my system, I was so upset by it, I couldn't sleep for days afterwards. The third time it happened I couldn't sleep for days before. And I was ready for it when it came. So ready. I shot out of that dream so quickly he didn't even have time to reach into his pocket.

'The last time I had the dream, I'd almost forgotten, it had been so long since the last one. I was just standing with some friends, in a pub, you know, having a really good time, and this girl brushes past me. She is wearing a thin top and no bra. I can feel her breast as it grazes past my arm and her nipple is hard even though the room is warm. She looks up and smiles at me, a really warm smile. Comfort and joy. You know, I've never met a girl I couldn't learn to dislike, but this one and me, we have this immediate
depth. I can tell it's going to be a good night.

'But the kid hadn't forgot and he took me from behind, and when I turned to him the petrol was already dripping out of my hair and the girl wasn't there anymore.'

'Maybe she knew the plot,' I say to him, 'maybe she was in on it,' but he ignores me and continues:

'I can feel this liquid soaking through my t-shirt and my jeans, running down inside my underpants; following the crease of my arse and collecting behind my balls. And this time the Zippo was working, he must have got it fixed, and his hand was moving toward me with this little machine with a small blue flame coming out of it.

'As I woke up I heard a 'whoomp' sound, but that might have been my heart, or my stomach 'cos I was sick on the floor next to my bed.

'The first couple of times really pissed me off because I was so unprepared, and I hate that, the feeling of being caught out. But the last time it happened I realised that what I was really scared of was knowing that the petrol would burn me until I died, that sooner or later the Zippo would work and I would not be quick enough.'

He stopped talking and spent a few moments deep in thought.

'And then what?' I asked.

'Then I won't wake up,' he turned to face me, 'Because I can't always be fast enough, can I?'

For a moment I felt a surge of some emotion toward him but this was extinguished as his hazel eyes hooded over and a lazy serpent smile spread across his face, masking the brief show of fear.

'Let's do it then,' he said to me.

We got out of the car.

0

Cerita-Cerita Mancanegara; Rapunzel

Rapunzel

There were once a man and a woman who had long, in vain, wished for a child. At length it appeared that God was about to grant their desire.

These people had a little window at the back of their house from which a splendid garden could be seen, which was full of the most beautiful flowers and herbs. It was, however, surrounded by a high wall, and no one dared to go into it because it belonged to an enchantress, who had great power and was dreaded by all the world.
One day the woman was standing by this window and looking down into the garden, when she saw a bed which was planted with the most beautiful rampion, and it looked so fresh and green that she longed for it. She quite pined away, and began to look pale and miserable.
Her husband was alarmed, and asked: 'What ails you, dear wife?'
'Ah,' she replied, 'if I can't eat some of the rampion, which is in the garden behind our house, I shall die.'
The man, who loved her, thought: 'Sooner than let your wife die, bring her some of the rampion yourself, let it cost what it will.'
At twilight, he clambered down over the wall into the garden of the enchantress, hastily clutched a handful of rampion, and took it to his wife. She at once made herself a salad of it, and ate it greedily. It tasted so good to her - so very good, that the next day she longed for it three times as much as before.
If he was to have any rest, her husband knew he must once more descend into the garden. Therefore, in the gloom of evening, he let himself down again; but when he had clambered down the wall he was terribly afraid, for he saw the enchantress standing before him.
'How can you dare,' said she with angry look, 'descend into my garden and steal my rampion like a thief? You shall suffer for it!'
'Ah,' answered he, 'let mercy take the place of justice, I only made up my mind to do it out of necessity. My wife saw your rampion from the window, and felt such a longing for it that she would have died if she had not got some to eat.'

The enchantress allowed her anger to be softened, and said to him: 'If the case be as you say, I will allow you to take away with you as much rampion as you will, only I make one condition, you must give me the child which your wife will bring into the world; it shall be well treated, and I will care for it like a mother.'
The man in his terror consented to everything.
When the woman was brought to bed, the enchantress appeared at once, gave the child the name of Rapunzel, and took it away with her.
Rapunzel grew into the most beautiful child under the sun. When she was twelve years old, the enchantress shut her into a tower in the middle of a forest. The tower had neither stairs nor door, but near the top was a little window. When the enchantress wanted to go in, she placed herself beneath it and cried:

'Rapunzel, Rapunzel,
Let down your hair to me.'

Rapunzel had magnificent long hair, fine as spun gold, and when she heard the voice of the enchantress, she unfastened her braided tresses, wound them round one of the hooks of the window above, and then the hair fell twenty ells down, and the enchantress climbed up by it.
After a year or two, it came to pass that the king's son rode through the forest and passed by the tower. Then he heard a song, which was so charming that he stood still and listened. It was Rapunzel, who in her solitude passed her time in letting her sweet voice resound. The king's son wanted to climb up to her, and looked for the door of the tower, but none was to be found. He rode home, but the singing had so deeply touched his heart, that every day he went out into the forest and listened to it.
Once when he was thus standing behind a tree, he saw that an enchantress came there, and he heard how she cried:

'Rapunzel, Rapunzel,
Let down your hair to me.'

Then Rapunzel let down the braids of her hair, and the enchantress climbed up to her.
'If that is the ladder by which one mounts, I too will try my fortune,' said he, and the next day when it began to grow dark, he went to the tower and cried:

'Rapunzel, Rapunzel,
Let down your hair to me.'

Immediately the hair fell down and the king's son climbed up.
At first Rapunzel was terribly frightened when a man, such as her eyes had never yet beheld, came to her; but the king's son began to talk to her quite like a friend, and told her that his heart had been so stirred that it had let him have no rest, and he had been forced to see her. Then Rapunzel lost her fear, and when he asked her if she would take him for her husband, and she saw that he was young and handsome, she thought: 'He will love me more than old Dame Gothel does'; and she said yes, and laid her hand in his.
She said: 'I will willingly go away with you, but I do not know how to get down. Bring with you a skein of silk every time that you come, and I will weave a ladder with it, and when that is ready I will descend, and you will take me on your horse.'
They agreed that until that time he should come to her every evening, for the old woman came by day. The enchantress remarked nothing of this, until once Rapunzel said to her: 'Tell me, Dame Gothel, how it happens that you are so much heavier for me to draw up than the young king's son - he is with me in a moment.'
'Ah! you wicked child,' cried the enchantress. 'What do I hear you say! I thought I had separated you from all the world, and yet you have deceived me!'
In her anger she clutched Rapunzel's beautiful tresses, wrapped them twice round her left hand, seized a pair of scissors with the right, and snip, snap, they were cut off, and the lovely braids lay on the ground. And she was so pitiless that she took poor Rapunzel into a desert where she had to live in great grief and misery.
On the same day that she cast out Rapunzel, however, the enchantress fastened the braids of hair, which she had cut off, to the hook of the window, and when the king's son came and cried:

'Rapunzel, Rapunzel,
Let down your hair to me.'

she let the hair down. The king's son ascended, but instead of finding his dearest Rapunzel, he found the enchantress, who gazed at him with wicked and venomous looks.

'Aha!' she cried mockingly, 'you would fetch your dearest, but the beautiful bird sits no longer singing in the nest; the cat has got it, and will scratch out your eyes as well. Rapunzel is lost to you; you will never see her again.'
The king's son was beside himself with pain, and in his despair he leapt down from the tower. He escaped with his life, but the thorns into which he fell pierced his eyes.
He wandered quite blind about the forest, ate nothing but roots and berries, and did naught but lament and weep over the loss of his dearest wife. Thus he roamed about in misery for some years, and at length came to the desert where Rapunzel, with the twins to which she had given birth, a boy and a girl, lived in wretchedness. He heard a voice, and it seemed so familiar to him that he went towards it, and when he approached, Rapunzel knew him and fell on his neck and wept. Two of her tears wetted his eyes and they grew clear again, and he could see with them as before. He led her to his kingdom where he was joyfully received, and they lived for a long time afterwards, happy an
d contented
 
Copyright © feel it? love it